Budidaya Jamur Solusi Kemiskinan Perkotaan

Foto : Caleg DPR RI Dapil NTB II atau Pulau Lombok dari Partai Gerindra, H. Bambang Kristiono (HBK) saat bertandang ke Kelompok Tani (Poktan) Muzaidi di Kecamatan Sandubaya Kota Mataram (MetroNTB/Ist)

Mataram, MetroNTB.com – Caleg DPR RI Dapil NTB II atau Pulau Lombok dari Partai Gerindra, H. Bambang Kristiono (HBK) bertandang ke Kelompok Tani (Poktan) Muzaidi di Kecamatan Sandubaya-Kota Mataram.

“Silahkan Pak Bambang lihat rumah jamur saya”, kata Muzaidi, Rabu April 2019

HBK bersama istri tercintanya Hj. Dian BK melihat rumah jamur Muzaidi. Didalamnya ada sekitar 2.000 baglog (media tanam jamur). Dari penuturan Muzaidi, ada dua jenis jamur yang dihasilkan, yaitu jamur tiram putih dan hitam.

“Rata-rata tiap hari bisa panen sekitar enam kilogram Pak”, terangnya.

Untuk satu kilogram jamur, lanjutnya, dijual dengan harga Rp 30 ribu untuk jenis jamur tiram putih, sedangkan jamur tiram hitam bisa lebih mahal, yaitu sekitar Rp 40 ribu per-Kilogramnya. Dalam sehari rata-rata mendapat pemasukan antara Rp 150-180 ribu.

“Pasarnya sudah jelas. Biasa diantar oleh anak-anak langsung”, sambungnya.

Penjelasan Muzaidi ini mengusik rasa ingin tahu HBK. Diantara yang ditanyakan adalah modal yang dibutuhkan membangun rumah jamur dan membeli baglog.

Menurut Ketua Badan Pengawas dan Disiplin (BPD) Partai Gerindra ini, budidaya jamur akan menarik bila melibatkan kelompok-kelompok masyarakat.

“Akan dapat membantu ekonomi keluarga jika berjalan optimal,” ucapnya

Muzaidi menjabarkan, untuk rumah jamur yang dibuat, untuk baglog dengan kapasitas 2.000 buah itu butuh modal sekitar Rp 7 juta. Sedangkan pembangunan rumah dan rak jamur menghabiskan sekitar Rp 20 juta lebih.

Masa panen jamur berlangsung selama lima bulan. Jika rerata tiap hari Rp 150 ribu, maka selama lima bulan mendapat Rp 22,5 juta.

“Setelah dipotong modal Rp 7 juta, keuntungannya itu Rp 15,5 juta. Sementara rumah jamurnya bisa dipakai seterusnya,” terangnya.

Penjelasan Muzaidi ini kian membuat HBK dan istri penasaran. Sembari panen jamur, HBK meminta hitung-hitungan jika ingin membuat kelompok budidaya jamur.

Menurut HBK, budidaya jamur ini solusi kongkrit pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin di perkotaan.

“Sangat inspiratif ini. Bagus untuk ditiru dan dikembangkan masyarakat perkotaan,” tandasnya (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here