TGB Jadi Narasumber Diskusi Nasional Di Surabaya, Ini Yang Dibahas

EXTRA HOT IKLAN

MATARAM, MetroNTB.com – Gubernur NTB Dr. TGH. M. Zainul Majdi menegaskan bahwa radikalisme harus disikapi dengan titik tengah.

MEDIUM IKLAN

“Titik tengah itu adalah  Pancasila sebagai alat ukur untuk menangkal tindakan radikalisme. Dan pendidikan sebagai alat mobilitas vertikal kolektif,” tegas Tuan Guru Bajang (TGB) saat menjadi narasumber dalam Diskusi Nasional Demokrasi Pancasila Sebagai Penangkal Radikalisme, bertempat di Hotel Swiss Bilinn Surabaya, Kamis, 7/9/2017,

LOW HOT IKLAN

TGB menjelaskan, pendidikan merupakan alat mobilitas terbaik dalam menciptakan generasi yang berkualitas dan jauh dari tindakan-tindakan radikal.

Menurutnya, tindakan radikalisme yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu saat ini, tidak sesuai dengan ajaran agama mana pun.

“Saya menduga tindakan itu hanya timbul dari pemahaman yang keliru dalam menafsirkan agama serta depresi hidup dan tekanan ekonomi,” terangnya

Gubernur NTB yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) menyampaikan pandangannya tersebut diselenggarakan oleh HR. Djoko Soemadijo Istitute bekerjasama dengan Universitas Marotama Surabaya.

Dalam diskusi tersebut, TGB diundang secara khusus untuk memaparkan pemikirannya bersama tokoh-tokoh nasional lainnya, diantaranya Ketua DKPP RI,  Dr. Harjono dan  HR. Djoko Soemadijo  yang telah dikenal luas sebagai seorang tokoh pendidikan di Indonesia.

Di hadapan ratusan pemuda, mahasiswa dan civitas akademika Universitas Marotama Surabaya yang hadir, TGB mengatakan, radikalisme terjadi jika institusi-institusi sosial keagamaan  kehilangan jati dirinya, terutama dalam menangkal berkembangnya paham-paham radikal.

Sehingga timbul label bahwa kekerasan-kekerasan atau radikalisme yang terjadi berasal dari institusi sosial yang ada, seperti Ponpes yang selalu dikaitkan dengan tindakan tradikalisme di Indonesia.

“Untuk mengeliminir  hal tersebut, maka Pancasila harus ditafsirkan secara benar sesuai dengan kaidahnya, tidak boleh semaunya. Jika terjadi perbedaan penafsiran,” kata Ketua Umum PBNW itu

Maka, harus didiskusikan untuk menghasilkan hal terbaik. TGB kembali mengingatkan pentingnya nilai-nilai dasar demokrasi Pancasila yang mengutamakan musyawarah untuk mencapai kemufakatan, direflikasikan dalam meretas berbagai perbedaan pendapat.

“Termasuk dalam penyelesaian berbagai permasalahan dalam konteks hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Hal itu menurutnya, dimaksudkan untuk menghindari munculnya sikap yang cenderung saling menyalahkan.

“Bahkan melihat orang yang tidak sefaham sebagai musuh yang harus diperangi. Itu tidak boleh terjadi,” tandasnya

TGB sebagai Gubernur yang pernah mencatat rekor muri sebagai gubernur termuda se- Indonesia tersebut menambahkan, radikalisme memiliki faktor yang sangat kompleks.

Karenanya, TGB mengajak seluruh elemen bangsa  untuk lebih mengedepankan rasionalitas dalam  segala tindakan, serta menumbuhkan rasa bangga sebagai anak bangsa yang memiliki dasar negara Pancasila.

Kebanggaan  itu, harus ditafsirkan dengan memahami pancasila sebagai pedoman berbangsa dan bernegara. Yakni dengan menjadikannya  sebagai sumber dari penyelesaian  segala permasalahan kebangsaan yang dihadapi.

“Pancasila harus hadir dalam mewujudkan keadilan sosial. Bahkan menjadi sumber penggerak dalam setiap  tindakan kepedulian sosial kepada sesama walau di belahan dunia mana pun,” katanya menambahkan

Comments

comments