Sasak Adalah Kita “Kelucuan Menyebut Sasak Hanya Orang Muslim”

Oleh: Agus Dedi Putrawan Kepala Bidang Kajian dan Riset, di Lembaga Berugaq Institute Cabang Yogyakarta.

EXTRA HOT IKLAN

MetroNTB.com – Akulturasi adalah sebuah keniscayaan bagi sebuah kebudayaan, selama akses pendukung selalu terbuka, maka percampuran dua atau lebih kebudayaan adalah sebuah Sunnatullah. Demam purifikasi kebudayaan menjadi isu yang santer bereseliweran di negeri ini.

MEDIUM IKLAN

Isu tentang arabisasi misalnya membuat sebagian tokoh menjadi “re-active self identity” (seperti kebakaran jenggot) dan merasa terdorong untuk memurnikan kembali kebudayaan kebentuk yang asli. Padahal mereka akan kuwalahan menentukan budaya periode mana yang ideal, karena semua kebudayaan adalah hasil pinjam meminjam kebudayaan, dari kebudayaan satu dengan kebudayaan yang lain.

LOW HOT IKLAN

Kebudayaan selalu berhadapan dengan sebuah perubahan, Perobohan tembok-tembok tendensi, mencair menjadi satu, menjadi suatu yang kekinian yang pada akhirnya kini membuat kita tidak mampu melihat mana yang asli, aspal, kawe 1, kawe 2 sampai kawe 10, mana yang fundamental, liberal, dan sekuler, semua tidak jelas dalam definisi dan aplikasi, dalam idealitas dan realitas kekinian akibat dari pengaruh globalisasi dengan modernisasinya.

Sulit untuk kita menyangkal bahwa alam pikiran masyarakat di pulau Lombok menganggap bahwa ketika menyebut suku Sasak maka akan terbayang orang Islam.Sebaliknya ketika menyebut orang yang beragama hindu sebagian besar mereka menganggap bahwa orang-orang itu adalah orang Bali.

Selain memang hampir 90 % lebih penduduk pulau Lombok beragama Islam, juga simbol-simbol agama khususnya Islam lebih banyak hadir di sepanjang jalan raya baik rumah ibadah seperti masjid maupun dalam simbol-simbol determinan seperti baliho “selamat manunaikah ibadah haji” dan lain sebagainya. Distorsi ini mungkin harus kita luruskan kembali.

Sebuah ilustrasi nyelenehtapi mengedukasi diutarakan Lalu Nasip ketika pementasan wayang beberapa waktu lalu“yoh endek napi side dengan Bali…?, dong lamun tiang lahir lek Bali, belek lek Bali beruk tiang jari dengan Bali… tiang lahir lek Lombok, tetapi agama tiang Hindu”.

Ungkapan dalam percakapan di atas mewakili orang-orang non-muslim di pulau Lombok bahwa masyarakat harus faham betul mana konsep suku budaya dan konsep kepercayaan. Jangan sampai sikap purifikasi mencederai kebinekaan kita, mengebiri kebebasan untuk hidup bermasyarakat.

Agama adalah sebuah kepercayaan yang sumbernya dari hati, bukan intervensi komunal, jadi meskipun simbol-simbol agama timbul di ruang publik, akantetapi belum tentu mencerminkan apa yang ada di dalam hati setiap individu, sehingga lahirlah istilah Islam KTP.

Akibat dari purifikasi yang kebablasan banyak orang terjebak dalam praktek deskriminasi terhadap individu, keluarga dan kelompok minoritas. Hal ini di sayangkan di saat Indonesia dikenal dengan kebinekaannya kemudiankeberhasilan membawanya menjadi percontohan menyatukan antara demokrasi dan Islam di tingkat internasional, khususnya di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim dunia.

“Sekjen OKI menilai bahwa Indonesia bisa menjadi model bagi negara-negara OKI lainnya, betapa Indonesia mampu menunjukkan sosok Islam yang moderen dan menjadi bagian dari solusi,”  (Marty M. Natalegawa). “berbagai survey di tahun 1998 menunjukan bahwa mayoritas umat Islam Indonesia tidak menyetujui penerapan syariah dan menyetujui penerapan Pancasila. Inilah salah satu faktor penting demokrasi bisa kawin dengan damai dengan demokrasi” (Lucia Ratih Kusumadewi).

Kita akan kembali pada topik di atas,kelucuan menyebut sasak “kini” hanya untuk orang muslim, ada hak untuk menklaim bahwa “sasak adalah kita”, bukan golongan, bukan juga orang-orang dengan previlage tertentu guna mempertahankan status quo.

Dalam sebuah Festival Lomba Seni Siwa Nasional (FLS2N) yang diadakan di Makasar, diikuti 34 Provinsi seluruh Indonesia beberapa waktu yang lalu.Lima siswi SMPN 1 Gerung yakni; Ni Made Marneta Sukreni, Ni Nyoman Triana Novitanti, Ni Putu Vera Julianti Pratiwi, Ni Wayan Ayu Anjani dan Ni Wayan Ervianidengan tarian Cupak Gurantangnya berhasil menyabet prestasi sebagai lima penyaji terbaik. Lantas karena mereka berbeda keyakinan dengan kita, lalu kita sebut mereka orang Bali?.. tidak..! mereka adalah orang sasak tulen yang kebetulan nenek moyang mereka tidak ikut terkena Islamisasi.

Peran dari berbagai kalangan pada hari ini saya kira perlu untuk digalakkan kembali, terlebih tokoh budayawan dan tokoh agama, karena ancaman baru telah dimulai dengan datangnya MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) yang akan mendatangkan banyak sekali gesekan-gesekan baik itu isu suku, maupun isu agama.

Sikap “re-active self identity” ini dari orang-orang yang merasa tersaingi, tersisihkan atau bahkan tertindas akan melahirkan protes dengan manifestasinya adalah purifikasi atau pemurnian yang kebablasan yang ujung-ujungnya merugikan kita semua. Tokoh agama seperti tuan guru diharapkan berani berkata “sasak adalah kita” karena peran mereka dikenal dapat mempengaruhi tindakan sosial masyarakat di pulau Lombok. Tokoh budayawan diharapkan sebagai pioneer penjaga nilai-nilai budaya yang termanifestasikan dalam tradisi-tradisi positif yang masih mengakar di masyarakat sasak, sehingga praktiknya tidak ada lagi yang mengklaim bahwa hanya mereka yang berhak menyandang kesasakan.

Sasak adalah kita, dan siapa saja yang lahir dan besar di pulau tercinta ini adalah suku Sasak, meskipun dia dari agama apa saja, karena suku adalah suku dan agama adalah agama, jangan diselewengkan. Mari kita belomba-lomba mengharumkan nama NTB bukan sibuk mempersoalkan siapa orang Sasak.

Comments

comments