PMII: Kekuatan Penyeimbang Bagi Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Oleh : Joni Satriawan (Ketua Umum PMII Cabang Sumbawa Masa Khidmat 2014-2015)

EXTRA HOT IKLAN

OPINI – Pra Wacana Hari Lahir (Harlah) merupakan momentum yang sangat tepat bagi manusia secara individu maupun organisasi secara kelompok untuk merefleksikan rekam jejak kehidupan yang telah dilalui.Tanpa terkecuali bagi Pergerakan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).Saat ini, PMII telah berusia 57 tahun (17 April 1960 – 17 April 2017).PMII telah menjadi organisasi kemahasiswaan terbesar di Indonesia.Memiliki 234 cabang di seluruh Indonesia.Diusianya yang cukup tua, tentu PMII telah melalui ragam dinamika disetiap fase pengemabangannya.Hiruk pikuk pergerakan, desas desus perjuangan telah mewarnai episode panjang perjalanan PMII.Ahlussunah Wal Jama’ah (Aswaja) dan Nilai Dasar Pergerakan (NDP) menjadi Manhaj Al-Fikr dan landasan PMII dalam menjalankan fungsinya sebagai kekuatan penyimbang bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.Sebagai organisasi yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama (NU), PMII mengemban amanat yang begitu besar.Dituntut untuk terus menjalankan kaderisasi secara massif dalam setiap level kepengurusannya (Rayon, Komisariat, Cabang, Koordinaoor Cabang hingga Pengurus Besar PMII).Hal tersebut semata-mata untuk membumikan Ahlussunah Wal Jama’ah,serta untuk membentengi Indonesia dari gerakan ekstrim kiri dan ekstrim kanan,demi mengejawantahkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

MEDIUM IKLAN

Komitmen Kebangsaan

LOW HOT IKLAN

Indonesia sebagai Negara kepulauan terdapat aneka ragam budaya suku, adat istiadat, agama di dalamnya.Membangun kebersamaan di tengah keberagaman seperti ini memang bukanlah perkara mudah.Sebab, perbedaan dapat memicu terjadinya ketidaksepahaman atau perselisihan yang dapat berujung kepada konflik.Namun sebagai suatu bangsa, Indonesia dituntut untuk dapat menjaga kesatuan dan persatuannya .Oleh karena itulah para founding father Indonesia merumuskan dan menetapkan Pancasila sebagai ideologi sekaligus konsep pemersatu untuk kejayaan Indonesia.

Bagi PMII, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini merupakan final dan titik. Keberagaman yang ada di dalamnya harus selalu dijunjung tinggi.Saling  menghargai satu sama lain. Semua warga Negara memiliki hak dan kewajiban yang sama. Menjaga NKRI merupakan tanggung jawab yang wajib dilakukan oleh seluruh warga pergerakan diseluruh penjuru bumi pertiwi ini.Gerakan ekstrim kanan maupun ekstrim kiri merupakan musuh yang harus diperangi oleh seluruh kader organisasi yang berasaskan Pancasila ini (Baca: AD/ART PMII).

Visi Keislaman

Islam merupakan agama yang sangat komprehensif.Islam mengatur seluruh sendi dalam kehidupan. Oleh karena itu, PMII mengakomodir seluruh sendi kehidupan tersebut dengan cara merumuskan dan menetapkan Nilai dasar Pergerakan (NDP). Selain menjadi tali pengikat (Kalimatun sawa) bagi seluruh warga pergerakan, NDP ini menjadi acuan atau landasan PMII dalam berfikir dan bertindak.Di dalamnya berbicara mengenai tiga relasi (Tuhan, manusia dan alam).Secaradetail dijabarkan melalui empat pointer penting (Tauhid, hablumminallah, hablumminnas dan hablumminalalam).

PMII mengemban visi Islam Rahmatan Lil Alamin. Islam yang ramah, bukan islam yang marah. Ahlusssunnah Wal Jama’ah sebagai metedologi berfikir, mengharuskan PMII untuk melihat dunia secara komprehensif.Berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Hadits.Kemudian mengapresiasi danmengakomodasi warisan pemikiran danperadaban dari para sahabat danorang-orang sholeh sesuai denganajaran nabi.Termasuk dalam hal tradisi, PMII wajib untuk menjaga tradisi lama yang baik dan menerima tradisi baru yang lebih baik.

Dalam bidang Aqidah, PMII mengikuti Imam Abu Hasan Al-Ashary dan Imam Abu Mansyur Al-Maturidy.Dalam hal ubudiyah (Prkatek peribadatan) mengikuti Madzhab empat (Hanfi, Maliki, Hambali, Syafi’i).Dalam bidang Tasawuf mengiktui Imam Al-Ghozaly dan Abu Qasim Al-Junaidy Al-Baghdady.Tawassuth (Tengah), I’tidal (Tegak lurus), Tasamuh (Toleran), Tawazun (Seimbang), dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar (Menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran atau keburukan) menjadi prinsip PMII.

Metedologi berfikir hingga prinsip-prinsip tersebut merupakan nilai-nilai yang dapat dijadikan acuan oleh PMII dalam menjalankan kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama.Metedologi dan prinsip-prinsip tersebut diyakini PMII dapat menjadi kekuatan besar dalam upaya mengejawantahkan Sa’adah Ad-darain (Kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat).

Tantangan Kekinian

Kompleksitas masalah yang dihadapi bangsa Indonesia memang sangat memprihtinkan.Potret sosial saat ini memperlihatkan bahwabangsa Indonesia berada diambang kegelisahan.Angka kemiskinan dan pengangguran masih tergolong sangat tinggi. Jumlah penduduk miskin(penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan) pada September 2016 berada di angka 27,76 juta orang. Sedangkan jumlah pengangguran Indonesia sebanyak 7,03 juta orang.  Begitu pula dengan kejahatan atau tindakan kriminalitas, seperti pencurian, penganiayaan, pembunuhan, pemerkosaan, korupsi, narokoba dan lain-lain, terus menerus terjadi dan mewarnai media massa setiap harinya. Bayangkan, selang waktu terjadinya kejahatan (crim clock) di Indonesiahanya berselang00.01.36 atau 1 menit 36 detik (Baca: BPS RI).

Belum lagi jika melihat carut marut kondisi bangsa yang terus menerus mempersoalkan issu SARA.Persoalan yang seharusnya final atau tuntas sejak awal Indonesia diproklamirkan sebagai Negara merdeka.Gencarnya issu ekstrim kanan dan ekstrim kiri juga menguras energi pemerintah, sehingga tidak dapat 100 persen konsen dalam mengejawantahkan akselarasi pembangunan nasional.

Kondisi demikian tentu sangat tidak selaras dengan cita-cita kemerdekaan Indonesia.Berbanding terbalik dengan keinginan dan harapan rakyat sebagai tuan yang seharusnya mendapatkan kehidupan layak dan terjaminnya ketenangan dan keselamatan .Oleh karenanya, PMII sebagai anak zaman harus mampu menjawab tantangan zamanyang dihadapai bangsa Indonesia.

Reposisi PMII

Jika melihat poteret mahasiswa secara umum, taji dan gerakannya saat ini memang terlihat tumpul dan redup.Tidak sehingar bingar dulu, terkesan abai dan acuh dengan situasi bangsa yang semakin carut marut.Kondisi demikian tentu mengahruskan PMII untuk selalu memupuk semangat idealisme agar tetap tumbuh dan berkembang.Pujangga dari Mesir, Syekh Mustofa Al-Ghalayaini dalam salah satu syairnya pernah mengatakan bahwa “Sesungguhnya di tangan pemudalah letak suatu ummat, dan di kaki merekalah terdapat kehidupan ummat”.

Tentu sebagai kolam penampung pemuda terbaik bangsa, PMII memiliki tanggung jawab akan hal tersebut. Terlebih, ragam masalah yang dihadapi bangsa Indonesia menimbulkan kegalauan dan kerisauan.Artinya, PMII harus lebih bergegas dan siap dalam menghadapi dan menghilangkan kegalauan dan kerisauan yang menyelimuti bangsa ini.

Sebagai barometer keberhasilan PMII dalam memperjuangan visi keislaman dan keindonesiaan,PMII sendiri telah menetapkan sebuah tujuan.Dengan adanya tujuan tersebut, PMII dapat mengukur sejauh mana sepak terjang dan keberhasilannya dalam mencapai visi keislaman dan keindonesiaan itu sendiri.Dalam Anggaran Dasar PMII Pasal 4, ditentukan tujuan yang berbunyi, ‘’Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia’’.

Untuk mengejawantahkannya, tentu PMII harus fokus kepada hal-hal yang bersifat konstruktif.Baik bagi individu kader, organisasi maupun bangsa dan Negara.Anti dan jauh dari kegiatan dan perdebatan yang justru memicu adanya dinamika tak sehat dalam organisasi.PMII sebagai sarana kaderisasi NU dan benteng pertahanan NKRI, sejauh ini telah berupaya untuk mencetak generasi-generasi terbaik bangsa.Sebagai organisasi kemahasiswaan yang berbasis kaderisasi, PMII diharuskan mampu menganalisis dan melihat kondisi kekiniaan, serta meneropong kondisi Indonesia di masa mendatang. Dengan hal tersebut, maka secara otomatis PMII akan mampu menyusun konsep maupun sistem kaderisasi secara massif dan sesuai kebutuhan zaman.

Secara garis besar, ada tiga hal yang sekiranya perlu dimaksimalkan PMII pada dewasa ini. Antrara lain, penguasaan ilmu pengetahuan dengan sungguh-sungguh, membangun spritulisme dalam diri masing-masing kader, dan mampu menjadi atau memberikan problem solving dalam setiap persoalan bangsa.

Urgensi Peran IKA PMII

Secara nasional, keberadaan IKA PMII memang sudah cukup lama.Didirikan pada 29 September 1988.Tapi secara lokal, keberadaan alumni PMII masih belum dimaksimalkan.Memang, sudah banyak daerah-daerah yang telah mendeklarasikan IKA PMII.Namun, tidak sedikit juga daerah-daerah yang komunikasi alumninya masih terputus, sehingga potensi alumni belum dapat dimaksimalkan untuk diorganisir ke dalam IKA PMII itu sendiri.

Selain menjadi wadah silaturrahim bagi alumni, IKA PMII juga memiliki peran yang sangat strategis dalam pengembangan organisasi.Baik secara sosial, politik, ekonomi dan lainnya.Keberadaan IKA PMII dihajatkan untuk mendayagunakan seluruh potensi sumberdaya alumni PMII dalamupaya pengembangan karir dan profesinya di berbagai bidang pengabdian.Termasuk untuk membantu dalam melakukan pembinaan dan bimbingan kepada PMII (Baca: AD/ART IKA PMII).

Berangkat dari hal tersebut, tentu dapat diketahui bahwa keberadaan IKA PMII pada era persaingan global seperti saat ini menjadi sangat urgen.Baik di tingkat nasional, regional maupun lokal.Jika diibaratkan, PMII merupakan pubrik yang mencetak produk sebagaimana kebutuhan pasar.Kemudian, IKA PMII dapatmenjadi jembatan yang memasarkan produk-produk tersebut. Oleh karenanya, sinergitas antara kader dan alumni PMII  harus terus terjaga.

Selamat Harlah PMII ke 57.

Pembela Bangsa, Penegak Agama, Tangan Terkepal dan Maju ke Muka, Salam Pergerakan.

Comments

comments