PENTINGNYA PARIWISATA SYARIAH : “Sarana Baru Memperkenalkan Pariwisata Ditingkat Nasional Dan Internasional”

Oleh : Ismail, Mahasiswa pascasarjana UIN MALIKI Malang

EXTRA HOT IKLAN

OPINI – Sebagai makhluk sosial, masyarakat tidak bisa terlepas dari rutinitas kesehariannya. Kegiatan penunjang kehidupan dilakukan setiap hari seperti bekerja dan menempuh pendidikan. Rutinitas ini dilakukan dengan penuh rasa semangat dan perjuangan. Karena diperhadapkan dengan rutinitas yang monoton, tidak jarang akan berdampak pada timbulnya titik kejenuhan. Pada kondisi ini produktifitas dan semangat mulai menurun, dan menunjukkan pentingnya kegiatan refreshing atau wisata.

MEDIUM IKLAN

Kegiatan wisata sendiri seakan sudah menjadi rutinitas yang melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia bahkan dunia. Selain untuk mendapatkan suasana yang baru, kegiatan ini juga dianggap penting untuk menghilangkan rasa kejenuhan akibat dari rutinitas yang padat. Kegiatan ini biasa dilakukan diakhir pekan, atau pada hari libur tertentu yang membutuhkan banyak waktu luang. Pilihan lokasinya pun sangat beragam, ada yang di pantai, pegunungan, obyek wisata budaya, panorama alam, dll.

LOW HOT IKLAN

Namun, di samping sebagai tempat untuk memanjakan para pengunjung, tempat wisata juga tidak terlepas dari sorotan negatif yang dikeluhkan oleh para pengunjung. Masalah tersebut pada umumnya menyangkut masalah kenyamanan dan keamanan lokasi wisata, misalnya adanya tindakan kekerasan, perzinahan, transportasi, tidak tersedianya fasilitas ibadah, akomodasi, dan kekhawatiran pengunjung terhadap makanan yang tersedia (halal/haram). Sadar atau tidak masalah ini akan berpengaruh terhadap motivasi pengunjung terutama pengunjung mancanegara yang tergolong Muslim. Sehingga diperlukan alternatif untuk menjaga keamanan dan kenyamanan pengunjung, yang secara langsung dapat berdampak positif terhadap kemajuan pariwisata di tingkat Nasional maupun Internasional. Tidaklah berlebihan menurut penulis bahwa alternatif tersebut adalah membuka lebar-lebar pariwisata syariah di tanah air.

Menurut ketua MUI bapak Dr. KH. Ma’ruf Amin (kuliah tamu di UIN Malang, 12 April 2017), sekarang adalah Golden Moment kebangkitan Ekonomi Syariah. Trend positif perkembangan ekonomi syariah tanah air akhir-akhir ini menjanjikan harapan baru majunya pariwisata nasional. Hal ini bisa dilihat dari meningkatnya minat masyarakat yang menjadikan nilai syariah sebagai daya tarik kehidupan, hal itu tidak hanya merambah ke beberapa sektor ekonomi saja seperti keuangan, asuransi, fashion, kosmetik, kuliner, dan hiburan, akan tetapi juga sektor pariwisata. Nilai syariah menjadi gaya hidup (life style) baru sekarang ini.

Apa itu pariwisata syariah?

Pandangan Islam tentang pariwisata tidak terlepas dari tujuan Tuhan menciptakan bumi dan isinya yaitu sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan mengakui keesaan dan kebesaranNya. Menurut Prof. Dr. H. Juhaya S. Pradja, M.A., dalam bukunya  Ekonomi Syariah, Pariwisata Syariah tidak terlepas dari tiga pilar utama yaitu Iman, Islam dan Ihsan, yang sarat akan nilai tangible (Keimanan, Ketauhidan, dan Ketaqwaan).

Pariwisata syariah menjadi cara baru untuk memperkenalkan potensi wisata Nusantara. Cara ini diharapkan bisa menjadi alternatif untuk menangkal potensi-potensi negatif dan menjadi andalan baru pembangunan ekonomi daerah dan nasional. Pariwisata syariah tidak diartikan pada kunjungan ke tempat ibadah atau jiarah kubur saja, melainkan tetap pada bentuk kekinian yang berasal dari alam, budaya, atau buatan manusia sesuai minat masyarakat yang dibungkus dengan nilai-nilai Islam. Nilai Islami digagas sebagai pelengkap yang urgent untuk menangkal hal-hal negatif yang berpotensi besar akan terjadi di lingkungan pariwisata.

Praktik nilai Islam pada lingkungan pariwisata bisa diaplikasikan dalam beberapa hal misalnya, pertamaFashion muslim. Ini memungkinkan para pengunjung untuk selalu memperhatikan penampilannya sesuai dengan standar nilai Islam, pariwisata di Banyuwangi sudah mempraktikannya. Kedua Kuliner. Halal haram makanan menjadi salah satu aspek yang dipertimbangkan para pengunjung wisata. Ketiga Perhotelan. Kesediaan sarana ibadah di lokasi penginapan menjadi salah satu yang dikeluhkan para pengunjung, contoh kecilnya sulitnya menentukan arah kiblat. Keempat Akomodasi. Menjamin keamanan pengunjung dalam perjalanan seperti pencurian, perampokan, begal, dan hal-hal yang membahayakan pengunjung selama perjalanan. Beberapa kriteria ini sudah disepakati oleh Kementrian Pariwisata dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kriteria ini sangat umum digunakan sebagai indikator produk syariah, baik Nasional maupun Internasional.

Negara-negara seperti Australia, Thailand, dan Jepang adalah negara yang sudah menggagas pariwisatanya dengan produk Islam, walaupun bukan negara muslim. Ini artinya, paket pariwisata syariah sudah menjadi andalan beberapa negara non muslim untuk memperkenalkan pariwisatanya. Hal ini cukup masuk akal karena populasi muslim dunia mencapai 1,6 milyar yang dijadikan pangsa pasar pariwisata dunia. Akhir-akhir ini sekitar 213.000 masyarkat kelas menengah muslim Indonesia diundang oleh negara Jepang untuk berkunjung ke Jepang sebagai sarana untuk memperkenalkan pariwisata syariah di Jepang (Seminar nasional oleh Prof. Azyumardi Azra, CBE tgl 18 maret 2017). Hal ini menandakan keseriusan negara-negara non muslim dalam mengembangkan pariwisata syariah. Penulis meyakini, peminat pariwisata syariah tidak hanya masyarakat muslim melainkan juga non muslim, dan bisa dijadikan sebagai target pemasaran.

Bagaimana dengan Indonesia? Pentingnya Pariwisata syariah diluncurkan oleh Kementrian Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif tahun 2012 yang menganggap Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Kekayaan alam Indonesia begitu melimpah yang menjanjikan panorama yang sangat luar biasa seperti pantai, pegunungan, tempat-tempat bersejarah, budaya, dan keindahan alam menjadi harga jual terhadap wisatawan dalam maupun luar negeri. Provinsi-provinsi di Indonesia yang sudah menerapkan paket wisata syariah antara lain Aceh, NTB, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Banten, Sumatera Barat, Riau, DIY, dan Jakarta.

Bagaimana dengan wisata gunung Tambora?

Salah satu tempat wisata yang menarik perhatian warga Nusa Tenggara Barat beberapa tahun terakhir ini adalah wisata gunung Tambora. Gunung Tambora yang terletak antara kabupaten Dompu dengan kabupaten Bima menjadi tempat wisata yang hangat diperbincangkan oleh semua kalangan. Tidak hanya sejarahnya yang mendunia, gunung dengan kekuatan letusan 171 ribu kali bom atom horishima ini menawarkan keindahan alam yang sangat menakjubkan. Salah satu usulan pemerintah daerah terkait pengembangannya adalah menjadikannya sebagai Geopark Nasional.

Sebagai tempat pariwisata baru yang diperkenalkan pemerintah daerah yang akan dijadikan sebagai salah satu sumber pendapatan, hendaklah memperhatikan trend pariwisata masa kini yang diminati masyarakat nasional maupun internasional. Prodak-prodak pariwisata syariah hendaklah mulai dipikirkan pemerintah daerah Kabupaten Dompu, agar lebih menjamin keamanan dan kenyamanan pengunjung yang secara langsung akan berdampak pada peningkatan pengunjung.

Comments

comments