“NOBEL PEMBANTAIAN” TERUNTUK AUNG SAN SUU KYI & BIKSU (PELOPOR PEMBANTAIAN MUSLIM ROHINGYA)

Penulis; Al Kahfi Abdullah (Alumni Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNMUH Malang)

EXTRA HOT IKLAN

OPINI – Tragedi kemanusiaan yang sangat menyedihkan, memilukan dan bahkan merobek-robek nurani kemanusiaan kita hari-hari ini tengah menimpa saudara kita Muslim Rohingya di Miyanmar. Pembantaian yang sangat kejam, dilakukan oleh junta militer dengan dukungan para Biksu Myanmar terjadi tanpa ada belas kasihan. Persekusi, pembantaian, pengusiran, pembatasan ruang gerak, pencabutan status warga negara, pelucutan hak-hak politik dan kekejaman lainnya yang sangat mengerikan terus digunakan untuk menghapus etnis Rohingya di negara Myanmar.

MEDIUM IKLAN

Ribuan peluru dan granat berpeluncur roket terus menghujani setiap gerak langkah saudara muslim kita di Rohingya. Mayat-mayat bergeletak di atas tumpukan bara api, wanita-wanita diperkosa dengan kejam dan anak-anak kecil menangis histeris memanggil ayah dan ibunya yang sudah kehilangan anggota tubuh dan bermandikan darah. Pada hari yang sama, ribuan warga muslim Rohingya lainnya harus berjuang mati-matian untuk menyebrangi perbatasan Myanmar-Bangladesh untuk menghindari amukan segerombolan tentara beringas yang menenteng senjata api.

LOW HOT IKLAN

Pembantaian ini terjadi pada warga muslim Rohingya yang merupakan warga negara minoritas yang beragama Islam di negara bagian Rakhine Utara di Myanmar Barat dikarenakan mereka tidak diakui keberadaannya. Mereka dianggap sebagai wabah penyakit yang harus dimusnahkan. Sungguh ironis, pembantaian dan kekejian terhadap muslim Rohingya ini terjadi begitu terang-benderang di depan mata kita. Suatu kebiadaban yang nyata dipraktekan di jaman yang beradab sekarang ini.

Lalu, di manakah para pemuka agama (para Biksu) di negara itu yang selalu mendemonstrasikan tentang ajaran ‘budhisme’ yang penuh cinta kasih dan kedamaian antar sesama manusia itu? Di manakah seorang wanita Aung San Suu Kyi yang katanya sebagai kampiun hak asasi dan demokrasi yang pernah dianugerahi ‘Nobel Perdamaian’ itu? Di manakah aparat negara (militer Myanmar) yang katanya selalu siap siaga untuk melindungi, melayani, dan mengayomi masyarakat itu?

Mereka telah membangun tiga serangkain yang membentuk komplotan “syetan” yang terus mendukung pembantain besar-besaran itu. Para biksu telah menjelma sebagai ‘Teroris Kepala Botak’ yang keji. Wanita peraih ‘Nobel Perdamaian’ itu telah menjelma menjadi wanita horror yang menakutkan. Aparat negara (militer Myanmar) telah menjelma menjadi sekumpulan ‘barbarisme’ yang haus darah. Di atas tangisan dan darah muslim Rohingya mereka bersorak sorai, bergembira ria menyaksikan potongan tubuh anak-anak dan wanita Rohingya yang berceceran di atas tanah.

Indonesia Harus Bersikap!

Indonesia sebagai negara tetangga yang dihuni oleh bangsa yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, tentu TIDAK bisa menerima semua pembantaian yang sedang terjadi terhadap warga muslim Rohingya atas nama apapun. Kita tidak boleh membiarkan peristiwa “holocaust baru” ini berlanjut karena ini juga menyangkut harkat dan martabat kita sebagai umat Islam yang disatukan oleh panji kebesaran “Allahu Akbar”.

Indonesia dibawah kepemimpinan Pak Jokowi harus berupaya untuk membangun konsensus lintas Negara ASEAN dalam rangka membahas peristiwa pembantaian terhadap muslim Rohingya tersebut. Indonesia juga harus mengusulkan kepada pemegang kekuasaan tertinggi dalam ASEAN yakni Sekretariat Jendral ASEAN agar mendepak keluar negara Myanmar dalam keanggotaannya, karena telah melenceng dari salah satu tujuan dibentuknya negara ASEAN dan secara terang-terangan negara Myanmar telah menghianati Deklarasi HAM ASEAN yang ditetapkan di Phnom Penh Kamboja pada 18 November 2012 yang lalu.

Sebagai negara yang telah membangun konsensus nasional yang sangat bersejarah, Indonesia telah berkomitmen bahwa “penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”. Pembantaian yang dilakukan oleh junta militer Myanmar dengan bantuan para biksu terhadap warga muslim Rohingya adalah bentuk penjajahan dan penindasan yang nyata. Indonesia harus berkomitmen bahwa pembantaian terhadap warga muslim Rohingya harus diselesaikan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Sembari mengutuk dan mengultimatum negara Myanmar, bangsa Indonesia juga harus menggalang bantuan kemanusiaan untuk warga muslim Rohingya.

Sudah ribuan korban yang berjatuhan di Rohingya akibat penyiksaan, pembunuhan, dan pemerkosaan yang tiada akhir. Juru bicara ERC Anita Schug kepada kantor berita Turki Anadolu Agency yang mengatakan bahwa antara 2.000 dan 3.000 Muslim Rohingya terbunuh di negara bagian Rakhine hanya dalam waktu tiga hari, dari Jumat hingga Mingg. Sungguh prestasi kekejaman yang luar biasa.

Atas prestasi yang mencengangkan tersebut, kami seluruh rakyat Indonesia dengan penuh kemarahan dan kebencian yang mendalam akan memberikan suatu penghargaan “NOBEL PEMBANTAIAN” kepada Aung San Suu Kyi & Biksu Myanmar atas kekejamannya yang telah memelopori pembantaian terhadap warga muslim Rohingya.

#SaveMuslimRohingya #RohingyaAdalahKita
Sekian-

Penulis; Al Kahfi Abdullah
Alumni Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNMUH Malang.

Comments

comments