MENGINGAT LUPA : “Solidaritas Sebagai Modal Membangun Bangsa”

Oleh : Ismail, Mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Malang

EXTRA HOT IKLAN

OPINI – Negara dengan letaknya yang strategis, dari 6°08´ LU hingga 11°15´ LS dan dari 94°45´ BT hingga 141°05´ BT, menjadi negara dengan kepulauan terbanyak di dunia (17.508). Bangsa ini dianugerahi kekayaan yang sangat luar biasa. Tidak hanya kekayaan alamnya yang melimpah melainkan juga agama, suku, budaya, dan adat istiadat yang beragam mencerminkan negara ini berstatus sebagai negara yang paling istimewa. Tidak heran, kekayaan ini melahirkan berbagai macam persepsi dari luar, mulai dari pernyataan yang negatif hingga pujian-pujian dilayangkan untuk bangsa ini.

MEDIUM IKLAN

Di sisi lain, dengan keberagaman yang ada menjadikan negara ini rawan akan terjadinya disintegrasi sosial/konflik sosial, yang berakibat pada perpecahan, permusuhan, dan rasa benci yang berlebihan antara yang satu dengan yang lain. Rapuhnya kondisi ini mencerminkan lemahnya kekuatan masyarakat dalam membangun bangsa ini. Inilah imbasnya jika kekayaan ini tidak dikelola dengan baik, baik oleh pemerintah maupun kita sebagai masyarakat, tidak membawa kesejahteraan justru berujung kehancuran. Hal ini bisa disebabkan oleh minimnya pemahaman masyarakat akan arti solidaritas.

LOW HOT IKLAN

Solidaritas diartikan sebagai integrasi sosial yang mencakup rasa kebersamaan, kesatuan kepentingan dan simpati masyarakat antara yang satu dengan yang lain. Tidak terjaganya nilai-nilai solidaritas akan memicu potensi terjadinya disintegrasi sosial, dan berdampak pada pembangunan nasional. Sebagai contoh, terjadinya kekisruhan akhir-akhir ini yang disebabkan adanya indikasi masalah agama, masalah politik, kesenjangan ekonomi, dan lain sebagainya. Sadar atau tidak,hal ini akan menurunkan minat orang asing untuk berkunjung ke negara kita, akibatnya pendapatan industri pariwisata menurun.Atau hilangnya minat bangsa lain untuk bekerja sama dalam membangun ekonomi dengan bangsa ini. Artinya, rasa aman dan nyaman akan sangat berpengaruh terhadap minat orang atau bangsa lain untuk bekerjasama dengan kita, terutama dalam bentuk investasi. Diperlukan kesadaran bersama untuk membangun bangsa ini.

Untuk meminimalisir terjadinya disintegrasi sosial, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Yang pertama, pemerataan pembangunan. Negara dengan populasi penduduk terbesar ke empat di dunia ini tidak hanya memberikan kekayaan yang luar biasa, tetapi juga menyuguhkan tingkat kesenjangan sosial yang tinggi. Data terakhirpenduduk miskin negara ini berjumlah 27, 76 juta orang (data BPS). Kecenderungan lebarnya jarak antara si kaya dan si miskin semakin terasa dikala ada terobosan pemerataan pembangunan oleh pemerintah. Pemerataan pembangunan dinilai hanya dinikmati oleh kalangan the have bukan kalangan the have not, sehingga potensi terjadinya disintegrasi sosial sangatlah tinggi. Di sisi lain, ada beberapa daerah yang merasa minim perhatian pemerintah dalam proses pembangunannya, katakanlah daerah timur dengan daerah pulau jawa. Secara kualitas hidup jelas sangatlah berbeda, sehingga yang terjadi adalah munculnya oposisi-oposisi yang mengatasnamakan tangan tuhan demi memberikan perlawanan terhadap pemerintah yang dinilai tidak adil dalam mewujudkan pemerataan pembangunan. Keadaan ini sangatlah mengkhawatirkan, sebab akan melahirkan rasa benci dan tidak percaya terhadap penguasa yang berujung pada hilangnya nilai solidaritas masyarakat.

Yang kedua, membangun rasa persaudaraan. Kehidupan sosial sudah menjadi keharusan dalam bermasyarakat. Strata sosial masyarakat sudah menjadi hiasan lingkungan kita. Rasa persaudaraan ini bisa dimulai dari orang-orang yang ada di sekeliling kita, misalnya antar kerabat, kepada tetangga, dan terhadap orang miskin di sekitar kita. Budaya saling membantu dengan rasa ikhlas menjadi kunci terwujudnya persaudaraan yang kuat, dan secara langsung tertanam sifat kepekaan sosial. Dengan cara ini diharapkan bisa membantu kemaslahatan masyarakat yang berujung pada meningkatnya pembangunan bangsa.

Yang ketiga, menghargai pendapat dan keyakinan orang lain. Kebebasan berpendapat dan berkeyakinan yang berlaku di bangsa ini sedikit terganggu oleh sikap dan tindakan oknum yang berkepentingan. Seakan sudah menjadi budaya, pelanggaran kebebasan ini muncul disaat-saat tertentu misalnya pada momen politik. Momen yang seharusnya dijadikan sebagai awal perubahan, justru menjadi awal masa suram. Tidak jarang terjadi perpecahan, perselisihan, dan permusuhan antar masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain disebabkan oleh perbedaan pendapat yang menjadi hak setiap warga negara. Keberadaan agama sebagai simbol negara juga terkadang mencapai titik yang menegangkan. Hasutan dan provokasi terjadi disekeliling kita dan sangat marak terjadi terutama melalui media sosial. Ini secara langsung dapat memecahkan persatuan dan kesatuan bangsa, sehingga mengorbankan retaknya nilai solidaritas masyarakat sebagai modal untuk membangun bangsa. Kekisruhan yang terjadi belakangan ini hendaklah menjadi pelajaran berharga bagi bangsa ini untuk menyongsong masa depan pembangunan nasional yang cerah.

Dari beberapa hal yang menjadi perhatian di atas, dinilai akan sangat berkontribusi besar untuk pembangunan nasional jangka panjang. Prinsip-prinnsip solidaritas hendaklah mulai tertanam sejak dini agar terjalin rasa persaudaraan antar sesama, terciptanya kepedulian dan kepekaan sosial, dan hilangnya jurang kesenjangan sosial. Prinsip ini menjadi harapan besar terwujudnya masyarakat yang damai dan sejahtera, dan menjadi modal utama dalam menghadapi setiap persoalan terutama persoalan pembangunan bangsa.Tidak ada bangsa yang tidak memilki persoalan, dan tidak ada persoalan yang tidak mampu diselesaikan secara bersama. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang masyarakatnya bersatu.

 

Kutipan pernyataan Nabi Syu’aib As. : “Aku hanya menghendaki perbaikan semampuku. Tiada keberhasilanku kecuali dengan pertolongan Allah. KepadaNya aku berserah diri, dan kepadaNya pula aku akan kembali”. (QS. XI:88)

Comments

comments