MENGADILI SIKAP RASIS STEVEN PENGHINA TUAN GURU (GUBERNUR NTB)

Oleh: Al Kahfi, Sekjen Kerukunan Keluarga Pelajar Mahasiswa Bima (KKPMB) Malang

EXTRA HOT IKLAN

OPINI – Kasus umpatan dengan nada yang membentak serta ucapan berbau rasis yang dilontarkan oleh Steven Hadisurya Sulistyo seorang WNI berketurunan Tionghoa kepada bapak Gubernur NTB yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) telah menyakiti hati dan memantik kemarahan seluruh warga NTB. Bagaimana tidak, sosok Tuan Guru Bajang di mata masyarakat NTB bahkan jauh melampaui sosoknya sebagai seorang gubernur yang telah mengantongi beberapa prestasi dan penghargaan. Tuan Guru Bajang merupakan seorang panutan, seorang ulama, seorang hafidz Al-Qur’an dan seorang cucu ulama besar pendiri Nahdatul Wathan yakni TGH. M. Zainul Abdul Madjid yang sangat dihormati dan dihargai.

MEDIUM IKLAN

Cacian, makian dan hinaan dengan nada yang betul-betul memperlihatkan kebencian disertai dengan ucapan yang rasis -“dasar Indo, dasar Indonesia, dasar pribumi, Tiko (Tikus Kotor)”- yang diterima Tuan Guru di bandara Changi Singapura pada minggu 9 April beberapa hari yang lalu menjadikan suatu cerminan bagi kita bahwa begitu rendahnya menjadi seorang pribumi di mata sipit Tionghoa. Suatu ucapan yang merepresentasikan pandangan mereka – Etnis Tionghoa- yang sangat menghina kepribadian kita sebagai kaum pribumi atau penduduk asli Indonesia.

LOW HOT IKLAN

Padahal kita semua tau bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang masih cukup kuat dan konsekuen memegang teguh semangat dan nilai-nilai toleransi. Penduduk asli Indonesia atau yang mereka sebut “kaum pribumi” tidak pernah mempersoalkan eksistensi warga asing di negeri ini -sebagai manusia yang legal maupun sebagai penumpang gelap- apalagi sampai menghina dan membentak mereka dengan ucapan-ucapan yang berbau rasis seperti yang Steven lakukan kepada salah satu pemimpin kita. Maka, adalah wajar ketika seluruh warga NTB yang tersebar diberbagai penjuru Republik Indonesia mengecam sikap arogan si bocah rasis berdarah Tinghoa tersebut.

Alasan yang mendasar, kenapa kita harus mengadili dan mempersoalkan secara hukum sikap rasis Steven tersebut ialah berkaitan erat dengan konten umpatannya yang secara jelas dan terang-terangan selain menghina pribadi Tuan Guru yang sangat dihormati oleh seluruh warga NTB, Steven juga dengan sengaja telah menghina seluruh kaum pribumi. Suatu kekerasan simbolik yang secara nyata dilakukan dengan penuh kepongahan.

Maka dari itu menurut hemat penulis, reaksi kemarahan seluruh warga NTB dan seluruh penduduk asli Indonesia merupakan suatu kemarahan yang wajar dan rasional sebagai reaksi atas ketersinggungan mereka atas hinaan yang dilakukan oleh Steven. Dengan membawa kasus Steven ke ranah hukum, ini memperlihatkan bahwa kemarahan publik adalah kemarahan yang konstitusioanal dengan selalu menempatkan hukum sebagai panglima yang bertindak untuk memproses dan mengadili setiap perkara (termasuk kasus Steven). Bukan kemarahan liar yang menebar sentimen dan provokasi di jalanan.

Meskipun Steven sudah membuat surat permintaan maaf atas perlakuan rasisnya dan secara peribadi Tuan Guru telah memaafkannya, tetapi apapun alasannya hukum tetap harus ditegakkan demi keberlanjutan keutuhan dan keharmonisan relasi sosiologis kita sebagai warga negara. Dan permintaan maaf tidak boleh menjadi alasan untuk membatalkan hukuman bagi pelaku penghinaan, sebab hukum tidak pernah mengenal kata “maaf”.

Kita tidak ingin kemarahan dan kebencian terus menyelimuti atmosfer kehidupan sosial dalam relasi kita sebagai warga negara yang berbeda baik secara etnis, budaya, agama, suku dan ras terus berlanjut hanya karena perilaku rasis dari manusia yang arogan. Maka dari itu, aparat penegak hukum tidak boleh gugup dalam mengedarkan keadilan hukum untuk semua warga negara termasuk dalam mengadili kasus penghinaan yang dilakukan oleh Steven tersebut. Dengan menegakkan hukum yang seadil-adilnya, akan menjadi pembelajaran bagi yang lainnya agar tidak berbuat hal yang serupa. Dan yang lebih penting dari penegakkan hukum tersebut ialah supaya kemarahan publik yang berpotensi menjadi sentimen SARA yang meluas dapat diredam.

Sekarang mari kita tunggu profesionalitas aparat penegak hukum dalam memproses kasus Steven yang sudah dilaporkan oleh berbagai pihak beberapa hari yang lalu. Kita berharap semoga dengan ditegakkanya hukum dapat mengembalikan kepercayaan publik atas pelaksanaan hukum yang telah terlanjur dianggap “bobrok” di republik ini. Dan kita juga berharap semoga tidak ada lagi pelaku-pelaku rasis penebar api SARA berikutnya yang dapat mengancam kebhinekaan kita.

Comments

comments