Bung Karno Mengusir Penjajah, Jokowi Masih Dirongrong Bangsa Sendiri

Secuil komparasi antara perjuangan Soekarno dan Joko Widodo, sebagai refleksi pada momentum Kemerdekaan RI ke 72

EXTRA HOT IKLAN

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuangnmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”
(Soekarno)

MEDIUM IKLAN

OPINI – Ribuan pulau yang hijau nan permai, ditambah dengan lautan biru yang terbentang luas, menjadikan Indonesia sebagai negara yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA). Potensi pertanian, perikanan, pertambangan dan lainnya, membuat negara lain menjadi terkesima sekaligus iri. Bagaimana tidak, manfaat dari SDA yang dimiliki Indonesia ini merupakan kebutuhan bagi setiap negara manapun. Karena itu, tak heran jika Indonesia sejak dulu sudah dijadikan sasaran empuk yang selalu dimangsa oleh negara lain.

LOW HOT IKLAN

 

Sejarah mencatat bahwa Indonesia adalah bekas negara jajahan. Tiga ratusan tahun lamanya, penjajah bergerilya di bumi pertiwi ini. Naluri kerakusannya sangat tinggi, menguras hasil bumi dan memerah keringat rakyat secara paksa. Hasil bumi yang berlimpah, dibawa untuk membangun negaranya. Bagi pribumi, tentu hal tersebut sangat menyedihkan. Tak dapat menikmati kekayaan alam yang dimiliki, jadi budak pula di negeri sendiri. Rasanya, tentu sedih bercampur geram.

Tak mampu menahan kesdihan dan geram yang melampaui ambang kesabaran, rupanya menjadi api yang membakar semangat pribumi untuk bangkit. Dengan penuh keterbatasan, pribumi mengangkat bambu runcing melawan penjajahan. Darah dan nyawa dipertaruhkan demi kenyamanan hidup generasi berikutnya.

Bisa dibayangkan, betapa berat beban perjuangan yang dilakukan oleh para pendahulu. Sebut saja perjuangan yang telah dilakukan Soekarno. Meski ia hanyalah satu dari sederet nama pejuang lainnya, namun dedikasinya terhadap kemerdekaaan Indonesia sangat besar. Beberapa kali ditangkap, dipenjara, diasingkan, karena dianggap dapat menghalangi niat jahat penjajah.

Bung Karno pernah mendekam di penjara Banceuy, dikenakan tuduhan pasal haatzai artikelen. Namun, hal itu tidak dapat memadamkan api semangat juangnya. Di Banceuy, ia menulis pledoi bersejarah yang terkenal dengan “Indonesia Menggugat”.

Pledoi tersebut tidak hanya sekedar pidato terhadap pembelaannya di Landraad. Melainkan untuk membela bangsa Indonesia secara umum, karena harkat dan martabatnya telah dijatuhkan oleh penjajah. Namun apa dikata, majelis hakim tetap menjatuhkan hukuman empat tahun penjara kepadanya, kemudian ia dipindahkan ke penjara Sukamiskin.

Syukurnya, pada saat yang bersamaan naskah Indonesia menggugat menyebar dengan cepat. Sehingga menjadi perbincangan dan dibahas serius oleh ahli-ahli hukum, di dalam maupun di luar negeri. Indonesia menggugat diterbitkan dalam belasan bahasa dan tersebar diberbagai negara. Sehingga mendatangkan banyak tekanan kepada Belanda. Karenanya, Belanda merubah hukuman yang diberikan kepada Bung Karno, dari empat tahun menjadi dua tahun.

Menjalani hukuman di penjara Sukamiskin sangat kejam. Bung Karno diwajibkan memotong rambutnya sampai gundul. segala apa yang dibawanya dari rumah maupun dari penjara Banceuy, diambil oleh petugas penjara Sukamiskin. Dia didekamkan dalam ruangan yang berukuran 1,5 x 2,5 meter, dan diwajibkan untuk bekerja dipercetakan penjara. Setiap hari mesti berbaris, kemudian dihadapkan dengan tumpukan kertas, memedat barang, memuat dan membongkarnya. Setelah pekerjaan selesai, baru bisa mendapatkan kesempatan untuk mandi selama enam menit. Kemudian diberi makan dengan nasi merah dan sambal seadanya. Setelah itu, kembali ke ruang tahanan yang disebutnya “bilik kecil”. Pukul 21.00, cahaya di ruang tahanan harus sudah digelapkan.

Bung Karno merasa tidak bisa berkutik. Kegiatan menulis dan membacanya nyaris macet. Surat kabar langganannya tak boleh masuk dan diterimanya. Bung Karno tidak dapat belajar dengan baik. Sebab, aktivitas kesehariannya membuat badannya lelah. Tulangnya terasa remuk, otaknya sakit, sehingga tidak bisa banyak menerima dan memkirkan sesuatu.

Kunjungan istri tercintanya, Inggit Garnasih juga dibatasi. Hanya diperbolehkan dua kali dalam sebulan. Waktu yang diberikan tiap kali kunjungan juga sangat singkat, hanya 10 menit. Namun, Bung Karno cukup bahagia dan bersyukur. Sebab, kedatangan Inggit garnasih dapat memberikannya sedikit informasi yang terjadi di luar, meski Inggit tidak memberitahukannya secara langsung. Melainkan menggunakan sandi, yang dikarenakan penjagaan oleh petugas penjara sangat ketat terhadapnya.

Sebelum mengupas telor rebus yang dibawa Inggit, terlebih dulu Bung Karno pasti merabanya. Jika ia mendapatkan satu lubang jarum, artinya keadaan di luar penjara lancar. Jika dua lubang jarum, artinya ada pejuang yang tertangkap. Jika tiga lubang jarum, artinya terjadi penyergapan besar-besaran.

Sandi juga dikirim lewat berbagai cara lain. Pernah, Inggit mengirimkan kitab Al-qur’an. Bung Karno segera mengingat tanggal Al-qur’an itu dikirim, kemudian membuka pada surah di halaman yang sesuai tanggal dikirimnya. Tangannya akan meraba di bagian bawah halaman yang dimaksud. Maka pada abjad yang dititik menggunakan jarum jahit, akan ia rangkai menjadi kata, kemudian kata dirangkai menjadi kalimat, sehingga tersusunlah informasi.

Begitu sulitnya hidup Bung Karno selama di Sukamiskin. Tak heran jika ia menggap hidupnya selama di Sukamiskin tak lain seperti seekor ternak. (Baca: Di bawah bendera revolusi).

Sebelum dibebaskan dari Sukamiskin, Bung Karno menulis tulisan yang berjudul “Saya memulai kehidupan baru”. Sehingga pada waktu dibebaskannya, tepatnya pada 31 Desember 1931, Bung Karno ditanyakan oleh salah seorang petugas penjara. “Ir. Sukarno, dapatkah tuan menerima kebenaran kata-kata ini? Apakah tuan betul-betul akan memulai kehidupan baru?”. Bung Karno pun menjawab sembari tangan kanannya memegang tiang pintu kebebasan, “Seorang pemimpin tidak berubah karena hukuman. Saya masuk penjara untuk memperjuangkan kemerdekan, dan saya meninggalkan penjara dengan pikiran yang sama”.

Pernyataan Bung Karno kepada petugas penjara tersebut terbukti. Selepasnya dari hukuman penjara, Bung Karno kembali menjalankan aktivitas pergerakannya. Terus melakukan konsolidasi kemerdekaan dan rapat-rapat bersama tokoh pergerakan lainnnya, hingga hal itu kembali tercium oleh Belanda. Alhasil, Bung karno kembali dijatuhkan hukuman. Kali ini, Bung karno tidak dipenjarakan seperti biasa. Melainkan, diasingkan ke Ende bersama istri dan keluarganya. Belanda sengaja mengasingkan Bung karno ke daerah tersebut, guna menjauhkannya dari keramaian. Sehingga konekasinya bersama tokoh-tokoh pergerakan lain menjadi terputus.

Kendati demikian, api semangat yang menyala dalam raga Putra Sang Fajar semakin membara. Selama di Ende, ia terus menerus melakukan konsolidasi pergerakan menggunakan pendekatan-pendekatan kesenian. Memberikan pencerahan sekaligus agitasi kepada pribumi di Ende tentang pentingnya kemerdekaaan. Setelah empat tahun di Ende, Bung karno kembali diasingkan ke Bungkulu. Di Bengkulu, Bung Karno juga melakukan konsolidasi. Disinilah Bung Karno bertemu dengan isteri ketiganya, Fatmawati, penjahit bendera pusaka sang saka merah putih.

Setelah pengasingan di Bengkulu, Bung Karno kembali bebas. Pemerintah Belanda di Indonesia telah dikuasi oleh Pemerintah Jepang pada 1942. Jepang juga menciptakan kondisi yang tak kalah sulit seperti Belanda. Untungnya, penjajahan Jepang tidak berlangsung lama. Hanya sekitar tiga tahun, Jepang hengkang dari Indonesia karena telah dikuasai oleh Sekutu.

Lowongnya penjajahan dimanfaatkan oleh para tokoh pergerakan, terutama kaum muda yang saat itu mendesak Bung Karno untuk memproklamasikan kemerdekaan. Alhasil, pada 17 Agustus 1945, Bung Karno secara resmi membaca Proklamasi Kemerdekaan.

Usia kemerdekaan kini telah mencapai 72 tahun (17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2017). Sepanjang perjalanan usianya, Indoensia telah mengalami tiga kali pergantian rezim (Orde lama, Orde baru, dan Reformasi). Di dalamnya juga diikuti dengan pergantian kepemimpinan. Tercatat, Indonesia telah memiliki tujuh pemimpin, Soekarno, Soeharto, BJ. Habibie, KH. Abdurrahan Wahid, Megawati, Sunsilo Bambang Yudhoyono, hingga Joko Widodo (Jokowi).

Jika melihat perjalanannya yang cukup panjang, Indonesia seharusnya tengah menjadi negara yang kuat dan mandiri. Namun, kenyataaan berbanding terbalik dengan harapan. Indonesia masih diselimuti kesedihan. Kekayaan SDA belum dapat dikelola secara mandiri dan maksimal. Rintihan rakyat masih terdengar disetiap pelosok negeri. Terlebih di 122 daerah yang masuk katagori daerah tertinggal. Daerah yang kemampuan keuangan maupun perekonomian masyarakatnya masih lemah. Sumber Daya Manusia (SDM) di bawah rata-rata. Sarana dan prasarana belum memenuhi standar kelayakan untuk menjadi daerah maju dan mampu bersaing (Baca: Kriteria daerah tertinggal).

Hal tersebut juga diikuti dengan masih banyaknya pengangguran dan penduduk miskin. Jumlah pengagguran di Indonesia saat ini menembus 7,01 juta jiwa. Sedangkan penduduk miskin telah mencapai 27,22 juta jiwa. Penduduk yang hanya dapat memenuhi kebutuhan makannya hanya satu hingga dua kali sehari. Mereka masih tinggal di rumah serba apa adanya. Sumber penerangannya tidak menggunakan listrik. Belum memiliki fasilitas buang air. Lantai masih terbuat dari tanah, bambu atau kayu murahan. Tembok belum mampu diplaster, bahkan masih banyak yang terbuat dari dinding dan rumbia. Sumber air minum berasal dari sumur atau mata air tidak terlindung. Untuk memasak makananan, masih menggunakan kayu bakar atau arang. Pendapatan kepala rumah tangganya sangat minim, yakni di bawah Rp600.000 per bulan (Baca: Kriteria penduduk miskin).

Setiap saat, publik juga selalu disuguhkan oleh pemberitaan media massa yang memuat tentang pencurian, pembunuhan, narkoba, korupsi dan lainnya. Hal ini tentu menjadi keprihatinan bersama. Mengingat, Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai agama, adat istiadat, moralitas dan lainnya, namun masih bisa dilanda secara terus menerus oleh persoalan tersebut. Bahkan, terjadinya pun dalam jangka waktu yang sangat dekat. Kejahatan di Indonesia hanya berselang 00.01.36 atau 1 menit 36 detik (Baca: BPS).

Sejumlah persoalan tersebut, merupakan potret Indonesia di usianya 72 tahun. Sebagai pemimpin bangsa saat ini, Presiden Jokowi tentu harus memiliki political will and political action yang tinggi. Untuk membangun negeri ini, Jokowi menerapkan konsep yang mengarah kepada pemerataan pembangunan. Keperpihakan pembangunan terhadap daerah terpencil merupakan hal yang kiranya tengah diperjuangakannya saat ini.

Sebagai contoh, Jokowi melakukan pembangunan infrastruktur di perbatasan Kalimantan, dari Kalimantan Utara sampai Kalimantan Barat. Pembangunan pelabuhan laut dalam di Papua. Mengirim PLTG Apung ke Sulawesi Utara dan Gorontalo yang kekurangan listrik sejak sekitar 50 tahun lalu. Membangun SPBU pertama kali di Kabupaten Puncak Jaya Papua, sehingga harga premium yang awalnya sekitar Rp50.000 per liter, kini telah turun menjadi Rp.6.500 per liter.

Selain itu, pemberian otoritas sekaligus kucuran dana yang besar terhadap pemerintah desa juga menjadi upaya dalam pemerataan pembangunan. Sehingga mampu mengatasi berbagai aspek persoalan sosial. Namun sayangnya, kebijakan yang kini tengah berjalan sekitar dua tahun ini belum memberikan perubahan yang signifikan. Kesiapan SDM di tingkat desa belum sepenuhnya mampu mengelola keuangan dengan baik. Belum lagi ditambah dengan adanya oknum pemerintah desa yang serakah, menggunakan dana tersebut untuk memperkaya diri sendiri. Hingga kini, telah mencapai 362 laporan ke KPK terkait penggunaan dana desa di Indonesia. Sehingga tak heran, kini telah muncul anggapan bahwa dana desa adalah sumber korupsi baru. (Baca: Litbang Berita Satu).

Sungguh, kondisi tersebut adalah musuh bagi kita semua. Terlebih, bagi Jokowi sebagai pemimpin bangsa. Menyelesaikan PR yang bernama “korupsi” ini memang tidak mudah. Sebab, pelakunya adalah oknum yang berada di lingkaran sistem itu sendiri. Betapa rumitnya perjuangan Jokowi, disusahkan atau dirong-rong oleh jajaran pemerintahannya sendiri.

Belum lagi dengan pencaturan politik Indonesia yang dewasa ini terlihat semakin tak sehat. Berbeda pilihan dalam pemilu, menjadi bahan untuk saling mempersalahkan, bahkan saling memfitnah. Persoalan yang seharusnya final sebelum Indonesia diproklamasikan, kini juga kembali disoal. Maraknya issu SARA, ekstrim kiri maupun ekstrim kanan, anti pancasila  maupun anti-anti yang lain, tengah membawa bangsa ini melangkah mundur. Jokowi sendiri sebagai presiden tak henti mendapat tudingan yang beraneka ragam jenisnya. Padahal, hakikatnya semua adalah bersaudara. Lahir dan besar di pangkuan ibu pertiwi mengajarkan kita untuk saling berpegangan, menasehati, mendukung antara satu sama lain. Bukan seperti yang terjadi saat ini, saling hujat dan menyusahkan. Sebab, hal itu dapat memicu terjadinya disintegrasi dan menghambat pembangunan nasional.

Oleh karena itu, mari jadikan momentum HUT RI ke 72 ini sebagai ajang refleksi. Berhenti saling menuding dan menyalahkan. Melainkan, bangun kebersamaan, saling berpegangan dan gotong royong dalam mengejawantahkan cita-cita kemerdekaaan Indonesia. Sebagaimana dahulu Bung Karno, yang mendapat dukungan dari seluruh rakyat Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaan.(*)

Dirgahayu Indonesiaku…

Penulis : Joni Satriawan Mersekz
(Alumni Fisipol UNSA Sumbawa Besar / Aktivis PMII)

Comments

comments