“BIMA DALAM CENGKRAMAN SLOGAN POLITIK OMONG KOSONG”

Oleh : Chery Malingi, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

EXTRA HOT IKLAN

OPINI – Kabupaten Bima maupun Kota Bima dikepung oleh gagasan, karena bertemu dengan berbagai pengetahuan baik yang bersumber dari para akademis lokal maupun nasional. Filsafat dan ideologi sudah lama berseliweran dalam pikiran dan gagasan para pendiri Kabupaten Bima dan Kota Bima. Rasionalitas dan teosofi beredar luas di awal pemekaran guna menjemput kemerdekaan individu. Sastra dan musik disuguhkan dalam pesta dan konferensi. Suatu suasana pedagogis pernah tumbuh di tanah bima ini. Tapi jejak poskolonialnya hampir tidak berbekas.

MEDIUM IKLAN

Teknokratisasi pikiran, ketika itu, melumpuhkan kebudayaan. Birokratisasi politik mengefisienkan pembuatan keputusan, karena tidak ada oposisi. Sehingga sejarah-pun dikendalikan oleh pemenang. Sekenario kebohongan diselipkan pada dokumen, upaya itu sengaja dilakukan untuk memberikan semacam pembersihan nama (status gou). Akibatnya sang pendatang baru (generasi) menjadikan satu rujukan dalam prefrensian untuk mengukapkan jejak moyang. Jika sang pendatang tidak memiliki alat pedagogis sebagai metode kritis dalam memilahnya, sudah jelas akan terjebak dalam kubangan dosa atas kedunguannya, dan satu-satunya pilihan adalah meneruskan cerita citra dari kebusukan pendahulunya.

LOW HOT IKLAN

Kritik yang pedas memerlukan pengetahuan yang dalam. Sinisme yang kejam datang dari logika yang kuat. Dua-duanya diperlukan untuk menguji pikiran publik agar tidak berubah menjadi doktrin, agar panggung publik tidak dikuasai para demagog. Individu hendak menumbuhkan demokrasi sebagai forum pikiran.Dalam hal ini subjek utamanya adalah gagasan para kacung (pemerintah) masyarkat Kabupaten Bima dan Kota Bima yang tampil dalam pesta demokrasi yang dilaksanakan sekali dalam lima tahu untuk pemilihan.

Kritik  masyarakat Kabupaten Bima dan Kota Bima mesti tumbuh pada ketidak konsistenan antaravisi, misi dan sikap kacung (pemerintah) yang dinamai Bupati Kabupaten Bima, Wali Kota Bima. Bukan terbelenggu bersama kepongahan retorika publik si kacung (pemerintah). Apalagi mengekor dan mengepalahi guna menyebarkan virus yang melumpuhkan sang tuan (masyarakat) untuk mendapatkan hak keadilan dari orang yang diwakilkan itu.

Apabila yang datang lebih dulu banyak memiliki kekurangan, dan datang yang baru adalah menegur, paling tidak itulah genarasi kritik yang losos dari jebakan historis dari pengkajian yang matang atas dokumen lama dengan perbandingan realitas yang ada. Dalam tinggkat itu pemahaman si kacung (pemerintah) harus menerimanya sebagai bentuk kecintaan dari yang memiliki perhatian atas ketelanjangannya. Tetapi realitas semacam itu jauh dari peredaran politik yang terjadi di ruang publik masyarakat Kabupaten Bima dan Kota Bima selama ini.

Jika sang tuan (masyarakat) menggunakan media publik untuk menyampaikan kritik, sudah pasti porsi kekalutannya akan diukur dengan kakulasi popularitas. Sehingga sering berbalik arah dengan mengandalakan kukuasaan materi sampai bahasa pun mati dengan tukar tambah di bawah kolong meja. Kekuasaan menciptakan bahasa. Tetapi bukan untuk mempertahankan dirinya sendiri (karena bila perlu ia bahkan dapat menambahnya dengan kekerasan), melainkan untuk “membudayakannya”. Dengan cara itu kekuasaan menjadi aktivitas sosial, diterima sebagai kebutuhan umum, tanpa protes. Jadi, harus mengatakannya secara terbalik: bahasa menghasilkan kekuasaan. Artinya, di dalam bahasa, kekuasaan menikmati hegemoninya. Melalui bahasa, kekuasaan menjadi surplus. Singkatnya, karena bahasa, penulis memiliki kuasa. Bahasa adalah sumber ontologis dari kuasa. Setiap kali bahasa diucapkan, setiap kali kekuasaan bekerja.

Seiring dengan krisis kekonsistennan para pendahulu dalam memimpin, si kacung (pemerintah) baru-pun tidak berhenti untuk menarik simpati tuan-Nya (masyarakat)dengan kekuatan bahasa, yaitu berbagai selogan-selogan pembangunan, dari konsep visi, misi lima tahun untuk memimpin. Kebiadaban semacam itu menjadi kebiasaan yang sering ditemukan pada pasangan calon Bupati Kabupaten Bima , dan Wali Kota Bima selama ini. Misalnya selogan-selogan kacung (pemerintah) publik itu antara lain:

“Ngaha Aina Ngoho”

“Tohora Ndai Sura Dou Labo Dana”

“Ngahi Rawi Pahu”

“Bima Ramah”

“Bima Berteman”

“Bima Kota Tepian Air”

Bahasa semacam itu datang dari spekulasi teologis, juga menjadi politik indentitas. Secara fisik itu merupakan kalimat sahadat politik, untuk  menghipnotis sang tuan untuk menjadi pengikutnya. Tetapi secara pesan politik itu adalah asbabulnuzum dari satu kolektivitas isi kitab selama ia memimpin untuk lima tahu kedepan.

Dalam bentuk privat orang menamai sesuatu agar menguasainya. Anda memberi nama seekor anjing, dan sejak itu ia milik Anda. Juga pikiran seseorang anda kuasai dengan memberinya nama. Dulu “komunis”, berarti “orang jahat”. Kini “neolib”, berarti “musuh rakyat”. Tuhan pun kita beri nama, supaya dapat memperalatnya. Memperalat artinya menguasainya. Bila berseru “atas nama-Nya”, berarti memperalat-Nya, untuk apa saja yang diinginkan. Termasuk mensumpahi orang lain.

Untuk mengetahui siapa nama pasangan calon Bupati Kabupaten Bima dan Wali Kota Bima yang lolos seleksi pemilihan pada periode-periode tertentu, publik dapat melacak melalui garis geneologi dan rantai transmisi bahasa selogan-selogan-Nya. Metodologi bahwa publik tidak hanya mempelajari serentetan kejadian serta angkatan tahun dari sejarah kepemimpinannya.

Dari sekian bahasa selogan yang digaunkan oleh kacung (pemerintah) yang mewakili masyarakat Kabupaten Bima, maupun Kota Bima, dalam memimpin baik yang terdahulu dan sekarang penulis tidak melihat satu-pun sintesis-Nya dilapangan, yang ada adalah hanya anti tesis dari bahasa selogan itu. Artinya yang dijanjikan tidak sesuai dengan kenyataan. Hal itu kemudian bisa dianalisis lebih jauh dari bentuk penggunaan APBD tiap tahun antara lain seberapa besar penggunaan anggaran untuk belanja pegawai sipil, dan belanja publik; lalu berapa persenyang dibagi di istansi pendidikan, kesehatan, kebudayaan, ekonomi, agama dan lain-lain.

Keurgensian dari semua itu harus memiliki relevansi dengan visi, misi para Kacung (pemerintah)Kabupaten Bima, maupun Kota Bima dan juga visi, misi parpol sebagai kendaraan politiknya. Poin pertama, Dalam perspektif itu penulis pemisimis terhadap keberadaan para kacung (pemerintah) yang mewakili masyarakat Kabupaten Bima, maupun Kota Bima bisa dikatakansukses dalam memimpin, karena dari sekian bahasa selogan yang dipakai tidak terlihat di awal kampanye untuk disosialisasi bagaimana carapengimplementasian visi, misi-Nya tersebut.Kedua, Bentuk kesuksesan para kacung (pemerintah) masyarakat Kabupaten Bima, maupun Kota Bima tidak ada “bentuk surgawi” yang merefleksikan “relasi-relasi aktual kehidupan” akan tetapi perrefrensian ini hanya menutupi hakikat sosial aktivitas praktis yang sebenarnya.

Hakikat pekerjaan kacung-Nya(pemerintah) masyarakat Kabupaten Bima,maupun Kota Bima, sebenarnya harus diungkapkan melalui perubahan-perubahan yang terjadi dalam relasi sosial atau wilayah yang dipimpin, bukan dengan cara mengadakan program-program re-edukasi.Penulis secara tegas mengatakan bahwa bahasa selogan-selogan para kacung (pemerintah) itu, baik yang dulu maupun sekarang ini adalah sama sekali tidak menyentuhkebijakan akar rumput. Apalagi sebagai “ekonomi politik”dalam membangun masyarakat untuk  bersaing dalam taraf nasional, juga yang menyentuh langsung ekonomi perempuan (gender) sebagai induk dalam keluarga.suasana sosiologis semacam itu yang kemudian penulis katakankondisi Kabupaten Bima dan Kota Bimadalam “Cengkraman Selogan Politik Omong Kosong”.

Stabilitas politik internal keluarga dan perkembangan kepribadian masyarakat umum (civil society) menjadi mungkin karena kondisi sosial-kultur tidak direpresi, tetapi disublimkan ke dalam bentuk permainan dan peran tanding untukmembuat satu kebijakanyang dirumuskan secara bersama (musrembang Kabupaten Bima dan Kota Bima) atas dasar otonomi daerah guna menjaga kearifan lokal.Paling tidak saling memberikan suport satu sama lain dalam menetapkan konsep pembagunan yang mana yang mesti diproritaskan dan yang harus dilestarikan.

#Sekian BIMA BERBENAH Terimakasih#

“Teks adalah sebuah jaringan kutipan yang diambil dari pusat-pusat kebudayaan yang tidak terhingga banyaknya”=Roland Barthes.

Comments

comments